Sunday, August 23, 2009

Mempengaruhi Keturunan Adam

قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ (صحيح البخاري

Sabda Rasulullah saw:
“Sungguh syaitan mengalir pada tubuh keturunan Adam pada aliran darahnya” (Shahih Bukhari).

ImageDialah Allah Swt Al Wujud, Maha Mengetahui segala keadaan, Maha Memiliki setiap nafas dan kehidupan, Maha Mengawali dan Mengakhiri Kebahagiaan, Maha Menawarkan Pengampunan dan tiada pernah terhenti dari zaman ke zaman.

Dialah Yang Maha Mendahului dan Maha Terdahulu atas segala kebaikan.

Sebagaimana kita lihat di waktu – waktu ramadhan sangat mudah bagi kita untuk melakukan ibadah, jauh berbeda dengan hari – hari lain.

Di bulan ramadhan mampu melakukan shalat tarawih 23 rakaat dan belum tentu bisa melakukannya di bulan selain ramadhan. Karena Allah Maha Dekat dan lebih dekat di bulan ramadhan. Juga Allah Swt membatasi kekuatan syaitan di bulan ramadhan.

Demikian dahsyatnya kekuatan syaitan untuk mempengaruhi panca indera, menundukkan telinga manusia agar tunduk pada hawa nafsu dan dosa, menundukkan penglihatan manusia agar ikut pada hawa nafsu dan dosa. Makin banyak sangka buruknya, makin banyak sombongnya, makin banyak menghina hamba Allah, semakin gelap keadaan itu maka semakin sempit terasa kehidupannya walaupun ia dalam keluasan harta, walaupun ia dalam kemudahan, walaupun ia dalam kebahagiaan.

Ketika jiwa bercahaya dengan cahaya Allah di majelis – majelis dzikir, di majelis – majelis taklim atau di tempat lain yang jiwa itu bercahaya dengan keagungan Nama Allah Swt maka di saat itulah terang – benderang sanubarinya, terang – benderang ruhnya dan akan terang – benderang seluruh panca inderanya dengan cahaya Allah, maka di saat itulah jiwanya berat untuk berbuat maksiat, berat untuk sangka buruk, berat untuk berbuat hal – hal yang hina diikuti seluruh panca inderanya yang juga merasa enggan berbuat dosa. Kenapa?

Allah Swt memuliakan dengan kehidupan ini disertai tuntunan Sang Nabi yang dengan itu runtuhlah kekuatan syaitan. Syaitan menjebak manusia kepada dosa dan kemaksiatan sejauh- jauhnya, dalam sekejap Allah bisa hapuskan dosanya jika ia banyak bertaubat.

Kasih sayang Ilahi Swt yang tentunya meruntuhkan kekuatan syaitan. Demikian agungnya dan khusnatullah kepada mukminin – mukminat.

Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, ketika Sayyidatuna Aisyah ra dikatakan oleh Sang Nabi “datang kepadamu syaitanmu”, maka berkata Sayyidatuna Aisyah ra “ya Rasulullah apa di dalam diriku ini ada syaitan?”, dan Rasul Saw menjawab “ya betul, di hatimu dan di dirimu itu ada syaitan”. Apakah di setiap manusia juga ada syaitannya? Rasul Saw menjawab “ya benar pada setiap manusia itu ada syaitan penggodanya”, lalu engkau? dan Rasul Saw menjawab “ya pada diriku pun ada syaitannya, tapi Allah Swt sudah menundukkannya sampai syaitan itu pun menyerah”. Demikian riwayat shahih muslim memperjelas daripada hadits riwayat Shahih Bukhari ini bahwa syaitan itu mengalir di setiap aliran darah keturunan Adam.

Bulan ramadhan Allah Swt mengikat syaitan, maka sedemikian para mufassir melemahkan dan menafsirkan makna hadits ini yaitu adalah syaitan dilemahkan oleh Allah karena Allah memberikan kekuatan iman lebih besar kepada muslimin – muslimat di bulan ramadhan. Karena Allah Swt melipatgandakan pahala mereka lebih besar di hari – hari ramadhan dibandingkan hari lain. Bersandarkan dengan hadits Shahih Bukhari bahwa Rasul Saw bersabda “amal pahala umatku dikalikan 10X sampai 700X lipat”.

Itulah, Allah bantu pula kita dengan melemahkan syaitan. Banyak sekali anugerah yang Allah munculkan di bulan ramadhan dan di saat itu Allah persempit kekuatan syaitan.

Bulan ramadhan juga bulan shadaqah. Diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah ra bahwa Rasul Saw sangat dermawan di bulan ramadhan, ini diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari.

Di dalam bershadaqah ada hal yang perlu diperjelas, shadaqah yang paling agung adalah shadaqah kepada kerabat sendiri sebelum kepada yang lain. Kerabat itu lebih dulu daripada yang lain, demikian Rasul Saw mengajarkan. Kalau ayahbundanya tidak susah maka kepada kerabatnya, lalu kepada tetangganya lalu kepada fuqara.

Rasul Saw telah menyampaikan ini berkali – kali riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim ketika Abu Thalhah Al Anshori ra adalah salah seorang Anshar yang kaya – raya. Dia mempunyai satu taman rekreasi disebut kebun dan taman rekreasi itu merupakan asset harta yang mahal dan luar biasa dan sangat mewah di masa itu. Ketika turunnya ayat “kalian belum mendapatkan kesempurnaan sebelum menginfaqkan yang kalian cintai”. Ayat ini turun di masa itu maka Abu Thalhah Al Anshori ra datang kepada Rasululluh, ya Rasulullah ini kebun rekreasi aku infaqkan karena Allah Ta’ala karena aku menyayanginya, kuinfaqkan untuk Allah. Rasul Saw tahu Abu Thalhah ra ini orang baik, orang mulia tapi punya 1 kekurangan kecil, 1 kekurangan kecil saja dan kekurangannya lupa pada kerabatnya yang susah.

Maka Rasul Saw tidak menghardik Abu Thalhah dengan ucapan “engkau ini keluargamu tidak kau perhatikan, kau kaya – raya sendiri”. Tidak demikian, namun Rasul Saw berkata “Abu Thalhah kau mau infaqkan ini kebun rekreasi yang demikian mewah dan megahnya?”, maka Abu Thalhah berkata “benar ya Rasulullah”. Rasul Saw menjawab “karena Allah?”, Abu Thalhah menjawab “ya, karena Allah”. Kalau begitu kau bantu aku untuk menyampaikannya kepada yang berhak. Abu Thalhah menjawab “mau ya Rasulullah”. Kau yang sedekahkan kepada Allah dan sekarang sampaikan kepada yang berhak, mau bantu aku untuk menyampaikannya kepada yang mustahiq?, Abu Thalhah menjawab “mau ya Rasulullah” Rasul Saw berkata “tolong sampaikan kepada kerabatmu yang susah”. Menangis Abu Thalhah mendengarnya, Subhanallah! Rasul Saw menegurnya dengan teguran yang demikian lembut. Kerabatmu banyak yang susah, sekarang kau datang padaku mau menginfaqkan hartanya. Demikian hebatnya, Rasul Saw berkata tolong sampaikan kepada orang susah yaitu keluargamu, benahi keluargamu. Ya Rasulullah engkau lebih perhatikan keluargaku daripada diriku sendiri, demikian indahnya tuntunan Nabi kita Muhammad Saw.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, salah seorang ayah mempunyai anak, anaknya susah dan ayahnya mampu. Ayahnya menaruh hartanya di Masjid Nabawiy untuk diberikan kepada fuqara, yang mengambil anaknya maka ayahnya berkata “hai, itu bukan untukmu tapi untuk fuqara!”, anaknya berkata “tapi aku juga tergolong fuqara, aku orang yang mustahiq”. Maka ayahnya datang kepada Rasul Saw “ya Rasululullah aku mau berikan pada fuqara malah diambil anakku!”, Rasul Saw bertanya “anakmu fuqara?”, ayahnya menjawab “ya, ia fuqara ya Rasulullah”, kalau begitu harta itu untuknya.

Jangan lupakan ayahbunda, ini akan masuk bulan ramadhan al mukarram puaskan jiwa untuk bakti pada ayahbunda bisa dengan harta dan bukan hanya dengan harta bisa dengan akhlak dan budi pekerti sehingga berkata Sayyidina Abdullah bin Umar Ra diriwayatkan oleh Imam Bukhari didalam kitabnya Adabul Mufrad, ketika datang seseorang yang sudah banyak berbuat dosa, mengadu kepada Abdullah bin Umar ra karena Rasul Saw telah wafat, Abdullah bin Umar bertanya “apakah engkau mempunyai ibu?”, sudah wafat “punya ayah?”, sudah wafat. Ya sudah kalau begitu banyak istighfar saja, banyak beramal sholeh. Ketika orang itu pergi, orang yang disebelah Abdulllah bin Umar bertanya “ya ibn umar kenapa engkau tadi bertanya apa ada ibunya, ada ayahnya?”, hubungannya apa antara ayah dan ibunya dengan orang itu? Abdullah bin Umar berkata “aku tidak temukan satu penawar dosa yang lebih daripada menyenangkan hati ayah dan bunda”, itulah penawar dosa yang paling dahsyat. Itulah yang memadamkan kemurkaan Allah Swt.

Oleh sebab itulah Allah Swt menjadikan perantaraan kehidupan lewat ayahbunda, mereka adalah perantara kehidupan tapi jangan lupa juga dengan perantara hidayah iman, Sayyidina Muhammad Saw. “Belum sempurna iman kalian sebelum aku lebih dicintainya dari ayah dan ibunya, dari anak- anaknya, dari seluruh manusia”.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari tentang bagaimana dahsyatnya akan datang fitnah, kerusakan dan permasalah yang menimpa di permukaan bumi ini. Rasul Saw mengatakan kelak di akhir zaman akan datang waktunya harta itu akan luas dan menjadi sejahtera seluruh permukaan bumi. Sehingga tidak ada satupun yang mau menerima shadaqah karena semuanya sudah luas dan berlebihan sehingga menerima shadaqah adalah hal yang sangat hina karena semuanya sudah berkecukupan.

Apakah hal itu mungkin terjadi? Akan muncul pula keluasan yang akan menimpa muslimin – muslimat dengan keberkahan dan kekayaan sehingga di saat itu harta di tangan orang – orang mulia, orang – orang baik yang akan diberi kekayaan oleh Allah Swt yang dengan itu orang – orang lain akan menginduk pada orang – orang yang baik.

Allah melimpahkan harta seluas – luasnya sebagaimana firman Allah Swt “bila orang – orang beriman itu bertaqwa kepada Allah Swt, Allah akan tumpahkan keluasan dan keberkahan dari langit dan bumi”. Oleh sebab itu ketika munculnya kebangkitan muslimin – muslimat di barat dan di timur dan tentunya juga di wilayah kita di Jakarta ini dengan semakin banyaknya kelompok dzikir, semakin banyaknya kelompok – kelompok shalawat, semakin banyaknya tabligh – tabligh besar, semakin banyaknya orang -orang yang menangis karena Allah.

0 comments:

Post a Comment